Spirit Memburu Lailatul Qadar: Antara Ibadah, Mental Sehat, dan Peluang Sosial

 Spirit Memburu Lailatul Qadar: Antara Ibadah, Mental Sehat, dan Peluang Sosial

Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Sekjen PKS dan Wakil MKD DPR RI

Setiap tahun, umat Islam di seluruh dunia berbondong-bondong mencari Lailatul Qadar, malam yang dijanjikan lebih baik dari seribu bulan. Bagi mereka yang beriman, ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi momen emas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan harapan mendapatkan pahala yang tak tertandingi. Seperti yang Allah tegaskan dalam QS. Al-Qadr ayat 3, malam ini lebih bernilai daripada ibadah selama lebih dari 83 tahun.

Di Tanah Suci, semangat berburu Lailatul Qadar mencapai puncaknya pada malam ke-27 Ramadan. Keyakinan masyarakat Saudi bahwa malam ini adalah saat paling potensial untuk Lailatul Qadar membuat Masjidil Haram dibanjiri jemaah. Tahun ini, Masjidil Haram mencatat rekor dengan lebih dari 3,4 juta jemaah salat dan 800.000 jemaah umrah. Tak semua beruntung bisa masuk ke dalam masjid. Ribuan lainnya terpaksa beribadah di jalan-jalan, trotoar, hingga halaman hotel dan toko di sekitar Masjidil Haram.

Fenomena ini menggambarkan betapa besarnya antusiasme umat Islam dalam menggapai keberkahan. Sebab, shalat di Masjidil Haram saja sudah memiliki pahala yang setara dengan 100.000 kali shalat di masjid lain. Ditambah dengan keutamaan Lailatul Qadar, tak heran jika jamaah rela berdesakan demi meraih malam penuh berkah ini.

Semangat serupa juga tampak di Indonesia. Sepuluh malam terakhir Ramadan, banyak umat Islam memilih untuk beri’tikaf di masjid. Di Masjid Raya Habiburrahman, Bandung, misalnya, ribuan orang bahkan mendirikan tenda di area masjid. Diperkirakan, pada malam ke-27 Ramadan, jumlah yang beri’tikaf bisa mencapai 7.000 orang.

I’tikaf bukan hanya sekadar mencari keberkahan Lailatul Qadar. Lebih dari itu, ia menjadi sarana refleksi diri, menjauh dari hiruk-pikuk duniawi, dan fokus pada ibadah. Di era modern yang penuh distraksi dan tekanan hidup, momen ini sangat berarti untuk menenangkan hati dan pikiran.

Ada satu aspek menarik dari fenomena berburu Lailatul Qadar ini yang sering luput dari perhatian: dampaknya terhadap kesehatan mental. Di tengah meningkatnya kasus stres dan gangguan mental akibat tekanan hidup, i’tikaf dan ibadah intensif di bulan Ramadan bisa menjadi solusi alami.

Secara psikologis, menghabiskan waktu di masjid, menjauh dari kebisingan dunia, serta fokus beribadah terbukti dapat memberikan efek menenangkan. Seorang yang beri’tikaf mengurangi paparan terhadap berita buruk, media sosial, atau masalah duniawi yang kerap menjadi sumber kecemasan. Dengan kata lain, i’tikaf dapat menjadi ‘detoks mental’ yang membantu mengurangi stres dan meningkatkan ketenangan jiwa.

Momentum berburu Lailatul Qadar ini sebenarnya juga bisa menjadi peluang bagi pemerintah untuk berperan lebih aktif. Jika didorong dengan baik, tradisi i’tikaf dan ibadah Ramadan bisa menjadi sarana untuk membangun ketahanan sosial dan mental masyarakat.

Misalnya, pemerintah bisa memberikan dukungan bagi masjid-masjid yang mengadakan i’tikaf, menyediakan fasilitas yang lebih layak, serta mendorong kegiatan yang lebih edukatif selama Ramadan. Selain itu, tradisi ini juga bisa membantu menekan berbagai penyakit sosial, seperti kenakalan remaja dan penyalahgunaan narkoba, karena memberikan alternatif kegiatan yang lebih positif bagi masyarakat.

Berburu Lailatul Qadar bukan hanya tentang mengejar pahala besar, tetapi juga tentang membangun spiritualitas yang lebih dalam, kesehatan mental yang lebih baik, serta potensi perbaikan sosial. Semangat ini hendaknya tidak hanya berhenti di bulan Ramadan, tetapi terus dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin, inilah esensi sejati dari malam yang lebih baik dari seribu bulan: bukan hanya soal hitungan pahala, tetapi bagaimana malam ini bisa mengubah seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dalam jangka panjang.

Facebook Comments Box